beasiswas1's picture
Real name: 

Name

Name
beasiswas1

Personal details

Web
http://obet41514010038.blog.mercubuana.ac.id/5-tips-memilih-jurusan-kuliah-agar-bermanfaat/
Short Bio
Indeks Prestasi Kumulatif alias IPK sering jadi kebanggaan sekaligus momok menakutkan bagi mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta. Bahkan katanya, nilai IPK bisa menentukan tingkat kebanggaan dan kepedean seseorang. Memangnya, IPK penting banget ya? IP adalah Indeks Prestasi atau perhitungan nilai untuk tiap mata kuliah. Sedangkan IPK adalah keseluruhan/kumulatif dari nilai yang masuk. Di Indonesia, umumnya diterapkan IP skala 0-4. Nilai 4.00 sempurna, 3,51 ke atas cum laude, dan IPK 3.00 dianggap bagus. Kalau IPK dibawah 3.00 biasanya sudah mulai ketar-ketir, meskipun, yang sering disebut adalah minimal 2.75 untuk standar melamar kerja. Tapi apakah IPK sebegitu pentingnya sampai layak dijadikan "goal" utama mahasiswa? Bahkan, sampai bisa bikin down, depresi hingga yang paling menyedihkan dan disesalkan adalah kasus bunuh diri mahasiswa lantaran masalah nilai :( Ada yang berpendapat bahwa IPK nggak penting-penting amat, karena 3 alasan berikut: 1. Menguasai ilmu dan skill di bidang yang dipelajari merupakan hal yang terpenting, bukan sekadar nilai. IPK bagus nggak menjamin bahwa seseorang benar-benar paham dan punya kemampuan yang baik. Contohnya, waktu saya kuliah Sastra. Ada banyak teman saya yang kemampuan bahasa, speaking dan writing-nya lebih oke daripada saya. Padahal, IPK mereka di bawah saya. Bahkan ada lho, yang IPK-nya biasa aja dan nggak mencapai 3,00 tapi skill dan kemampuannya sama, bahkan melampaui mahasiswa yang cum laude. 2. IPK nggak berhubungan dengan kualitas pekerjaan. Kuliah dan kerja adalah dua hal yang berbeda banget. Nilai saat kuliah nggak bisa jadi patokan performa kerja. Attitude dan semangat untuk bekerja keras dan kemauan buat terus belajar lah yang menentukan kesuksesan dalam bekerja. Saya pernah ngobrol dengan salah satu manajer senior di perusahaan pertambangan. Dia punya anak buah yang lulus dengan nilai nyaris sempurna. Sayang performa kerjanya sangat mengecewakan. Nggak menunjukkan prestasi Beasiswa Untuk Mahasiswa S1, bahkan cenderung malas. Yah! Walaupun ada juga sih, pekerja yang memang IPK dan hasil pekerjaanya sama-sama memuaskan. Sementara Runi Indrani, Managing Editor Hellobali merasa nilai IPK nggak mempengaruhi kariernya. “Nggak terlalu berpengaruh, tuh, walaupun awalnya IPK sempat bikin gue keder dan nggak percaya diri. Soalnya, dulu IPK gue nggak mencapai 3,00. Sekarang, kalau merekrut pegawai (penulis majalah), gue pun nggak melihat nilainya. Gue lebih melihat pengalamannya. Atau kalau belum berpengalaman, gue lihat hasil tes tulisannya serta hasil interview untuk “membaca” personality-nya." Lainya : Cara Berhenti Donasi Unicef

History

Member for
2 months 1 day